
Wakil Bupati Kapuas saat membacakan arahan tertulis Bupati Kapuas sekaligus membuka secara resmi kegiatan FGD I Penyusunan Rencana Kontinjensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Kapuas Tahun 2026 di Fovere Hotel Kuala Kapuas, Selasa (14/7/2026) pagi. (Foto : hmskmf)
KUALA KAPUAS, detakkalteng.com – Pemerintah Kabupaten Kapuas memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menyusun Rencana Kontinjensi (Renkon) Karhutla Tahun 2026. Penyusunan dokumen tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) I yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas di Fovere Hotel, Jalan Pemuda, Kuala Kapuas, Selasa (14/7/2026) pagi.
Kegiatan tersebut dibuka Wakil Bupati Kapuas Dodo yang hadir mewakili Bupati Kapuas. Hadir pula jajaran Forkopimda, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas Pangeran S. Pandiangan, sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Palangka Raya sebagai mitra penyusunan, perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai narasumber, para camat, serta tamu undangan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas menjelaskan, kondisi geografis Kapuas dengan wilayah hutan dan lahan yang luas, termasuk kawasan gambut, membuat daerah tersebut memiliki kerentanan terhadap karhutla. Karena itu, Renkon diperlukan sebagai instrumen kesiapsiagaan agar seluruh unsur terkait memiliki langkah yang jelas ketika menghadapi kondisi darurat.
“Tujuan pembuatan Renkon Karhutla ini adalah untuk menyamakan persepsi dan skenario ancaman di wilayah Kabupaten Kapuas, memetakan secara detail tugas dan fungsi antarinstansi saat status keadaan darurat, serta menginventarisasi seluruh sumber daya baik personel, logistik, maupun peralatan agar siap dimobilisasi secara cepat dan tepat,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan berbagai unsur melalui pendekatan pentahelix diharapkan mampu menghilangkan ego sektoral sehingga koordinasi dalam penanganan karhutla dapat berjalan lebih optimal.
Sementara itu, Wakil Bupati Kapuas Dodo saat membacakan sambutan tertulis Bupati Kapuas H. Muhammad Wiyatno menyampaikan bahwa pengalaman menghadapi karhutla pada 2025 harus menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran. Kondisi lahan gambut yang mudah terbakar, ditambah keterbatasan akses menuju sejumlah lokasi, membutuhkan langkah pencegahan dan mitigasi yang disiapkan secara matang.
“Saya berharap dokumen yang dihasilkan nantinya tidak hanya menjadi dokumen administrasi, tetapi benar-benar menjadi pedoman operasional bagi seluruh unsur pemerintahan, TNI, Polri, Manggala Agni, dunia usaha, relawan, serta masyarakat. Kita harus membangun sistem kesiapsiagaan yang mampu mengantisipasi setiap potensi ancaman sejak dini,” urai Wakil Bupati menyampaikan pesan Bupati Kapuas.
Dalam arahan tersebut, Bupati Kapuas juga menyampaikan enam hal yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, dokumen harus disusun berdasarkan data yang valid dan mutakhir. Kedua, pembagian tugas harus jelas agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.
Selanjutnya, pemerintah daerah mendorong penguatan keterlibatan masyarakat melalui Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Desa Tangguh Bencana (Destana), memastikan kesiapan sarana dan logistik secara terintegrasi, memperkuat komitmen dunia usaha dalam menyediakan regu tanggap darurat, serta meningkatkan edukasi dan kampanye mengenai larangan membuka lahan dengan cara membakar.
Usai membuka kegiatan, Wakil Bupati Kapuas mengapresiasi langkah BPBD dalam mempersiapkan Renkon Karhutla. Pemerintah daerah berharap koordinasi lintas sektor, termasuk dengan pihak kecamatan hingga desa, terus diperkuat sehingga upaya pencegahan dan penanganan karhutla dapat berjalan dengan baik.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pelaksana BPBD Kapuas menyampaikan bahwa kondisi wilayah Kabupaten Kapuas saat ini masih aman dan kondusif. Meski sempat terdeteksi empat titik hotspot, seluruhnya telah berhasil ditangani melalui koordinasi yang berjalan baik di lapangan.
Namun, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan karena Kabupaten Kapuas telah memasuki fase El Nino dan kemarau panjang. Masyarakat pun diimbau meningkatkan kehati-hatian dalam beraktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Kami mengimbau masyarakat untuk berhati-hati, menyiapkan penampungan air, dan jangan membakar lahan secara sembarangan. Karakteristik gambut di tempat kita membuat api bisa menyerang dari bawah tanah secara endemik. Seluruh stakeholder, kepala desa, dan camat harus saling bahu-membahu melakukan pencegahan karena jika terjadi karhutla, kita semua yang akan menjadi korbannya,” pungkasnya.(AE)





